Senin, 05 September 2011

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH FAKULTAS EKONOMI

STRUKTUR KEPENGURUSAN
PIMPINAN KOMISARIAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
FAKULTAS EKONOMI 
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
PERIODE 2011-2012

Ketua Umum                :    Ahmad Rosyid Muhadi
Ketua Bidang Organisasi            :    Fajar Suryansyah
Ketua Bidang Kader            :    Conita Afriani
Ketua Bidang Keilmuan            :    Siti Chodijah
Ketua Bidang Hikmah            :    Nindya Novitasari
Ketua Bidang Sosial dan Ekonomi        :    Tiara Yunetasari
Ketua Bidang Immawati            :    Wahyu Estiningdyah
Ketua Bidang Dakwah            :    Wahyu Efendi

Sekretaris Umum                :    Kartika
Sekretaris Bidang Organisasi         :    Rhisya Ayu
Sekretaris Bidang Kader            :    Fatimah Zahra
Sekretaris Bidang Keilmuan        :    Cindhita Mahardika
Sekretaris Bidang Hikmah        :    Marshinta Novia
Sekretaris Bidang Sosial dan Ekonomi    :    Mifradita
Sekretaris Bidang Immawati        :    Elis Herlinawati
Sekretaris Bidang Dakwah        :    Darojatun Aliyah

Bendahara Umum                :    Lusi Rahmawati

Anggota Bidang Organisasi         :    Chika Suci Khairani
Anggota Bidang Kader            :    Suharyanto
                    :    Muhammad Ikhlas

Anggota Bidang Keilmuan            :    Anissa Rosdiana
                        Bayu Bagus Sikamaru

Anggota Bidang Hikmah            :    -
Anggota Bidang Sosial dan Ekonomi    :    Hesti Fajriani
                                                                    Nofianti Solika
Anggota Bidang Immawati            :    Rahmawati
Anggota Bidang Dakwah            :    -


Minggu, 04 September 2011

Jumat, 02 September 2011

kosakata Arab II - belajar bahasa arab

Ikhwah fillah berikut ini daftar kosakata (mufrodat) dari fi’il, semoga bermanfaat…

حَسُنَ (Baik)
بَعُدَ (Jauh)
قَرُبَ (Dekat)
جَمُلَ (Bagus)
شَرُفَ (Mulia)

جَهَدَ (Bersungguh2)
قَتَلَ (Membunuh)
أَخَذَ (Mengambil)
تَلاَ (Membaca)
سَكَتَ (Diam)
زَارَ (Mengunjungi)
فَرَقَ (Memisahkan)
جَمَعَ (Mengumpulkan)
نَصَرَ (Menolong)
حَمَلَ (Membawa)
ذَكَرَ (Mengingat)
قَامَ (Berdiri)
قَعَدَ (Duduk)
كَبُرَ (Besar)
حَفِظَ (Menjaga)
رَأَى (Melihat)
طَلَبَ (Mencari)
مَضَى (Berlalu)
شَرَكَ (Berserikat)
سَمِعَ (Mendengar)
رَجَعَ (Kembali)
فَتَحَ (Membuka)
رَكَعَ (Ruku)
حَرِصَ (Semangat)
كَرُمَ (Mulia)
كَمُلَ (Sempurna)
رَزَقَ (Rizki)
سَبَقَ (Mendahului)
نَجَحَ (Lulus)
رَبَحَ (Beruntung)
عَبَدَ (Ibadah)
غَفَرَ (Mengampuni)
شَرَحَ (Melapangkan)
فَهِمَ (Paham)
بَدَأَ (Mulai)
صَبَرَ (Sabar)
غَلَبَ (Menang)
دَرَسَ (Belajar)
كَسَرَ (Memecahkan)
مَنَعَ (Mencegah)
طَبَعَ (Mencetak)
صَلُحَ (Baik)
سَفَرَ (Bepergian)
بَكَى (Menangis)
صَرَفَ (Memalingkan)
سَجَدَ (Sujud)
أَمَرَ (Memerintahkan)
حَدَثَ (Terjadi)
نَهَى (Melarang)
جَلَسَ (Duduk)
رَفَعَ (Mengangkat)
مَشَى (Berjalan)
فَصَلَ (Memisahkan)
بَلَغَ (Mencapai)
وَقَفَ (Berhenti)
وَجَدَ (Menemukan)
شَرِبَ (Minum)
قَالَ (Berkata)
قَطَعَ (Memotong)
سَتَرَ (Menutupi)
أَكَلَ (Makan)
نَزَعَ (Mencabut)
نَظَرَ (Memandang)
كَفَرَ (Mengingkari)
تَرَكَ (Meninggalkan)
ظَهَرَ (Tampak)
حَصَلَ (Tercapai)
عَرَفَ (Mengenal)
جَاءَ (Datang)
رَأَى (Melihat)
مَرَّ (Melewati)
ضَرَبَ (Memukul)
حَرُمَ (Haram)
قَرَأَ (Membaca)
دَلَّ (Menunjukkan)
كَتَبَ (Menulis)
رَضِيَ (Ridho)
بَاعَ (Menjual)
عَلِمَ (Mengetahui)
قَالَ (Berkata)
ذَهَبَ (Pergi)
سَأَلَ (Bertanya)
خَلَقَ (Menciptakan)
نَفَعَ (Bermanfaat)
عَمِلَ (Berbuat)
فَلَحَ (Beruntung)
كَذَبَ (Berbohong)
خَابَ (Rugi)
آمَنَ (Beriman)
أَرْسَلَ (Mengutus)
سَلَفَ (Berlalu)


Kosakata Arab - belajar bahasa arab

Ikhwani fillah yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, berikut ini kami memposting kosakata yang sering muncul dalam tulisan ataupun percakapan bahasa arab, untuk awal ini kami menampilkan daftar kosakata (mufrodat) dari isim, insyaAllah postingan kosakata yang sering muncul dalam kitab-kitab arab gundul maupun dalam percakapan sehari-hari akan kami tampilkan secara berkala.
Untuk pelajaran bahasa arab dasar berikutnya, kami selingi dahulu dengan latihan-latihan dan mufrodat ini, dengan maksud agar ikhwah sekalian bisa memantapkan terlebih dahulu pelajaran-pelajaran sebelumnya dan lebih memperbanyak kosakata yang dimiliki, semoga bermanfaat…


اَلنَّبَأُ (Berita)

قَلْبٌ (Hati)
يُسْرٌ (Kemudahan)
سَهْلٌ (Kemudahan)
اِمْتِحَانٌ (Ujian)
اَلْفَرَجُ (Jalan keluar)
اَلْكَرْبُ (Kesulitan)
حَقٌّ (Kebenaran)
اَلأَرْضُ (Bumi)
اَلسَّمَاءُ (Langit)
اَلْجَنَّةُ (Surga)
اَلنَّارُ (Neraka)
شَيْءٌ (Sesuatu)
شَهْرٌ (Bulan)
اَلْعِلْمُ (Ilmu)
حَكِيْمٌ (Bijaksana)
مُفِيْدٌ (Bermanfaat)
جَائِزَةٌ (Hadiah)
اَلْيَوْمُ (Hari)
قَوْلٌ (Perkataan)
حَسَنٌ (Baik)
رَجُلٌ (Pria)
كِتَابٌ (Kitab)
جَدِيْدٌ (Baru)
اَلرِّسَالَةُ (Surat)
اَلطَّالِبُ (Pelajar)
اَلدَّرْسُ (Pelajaran)
اَلْقَلَمُ (Pena)
اَلْمَكْتَبُ (Meja)
اَلأُسْتَاذُ (Guru)
اَلْفَصْلُ (Kelas)
اَلْبَيْتُ (Rumah)
اَلْبَابُ (Pintu)
كَبِيْرٌ (Besar)
اَلْمَرْأَةُ (Perempuan)
اَلْغُرْفَةُ (Kamar)
نَشِيْطٌ (Orang yang rajin)
قَائِمٌ (Berdiri)
اَلرَّأْسُ (Kepala)
اَلطَّعَامُ (Makanan)
اَلإِنْسَانُ (Manusia)
اَلْفَقِيْرُ (Fakir)
عِلَّةٌ (Sebab)
نَفْسٌ (Jiwa)
اَلْمَاءُ (Air)
حَارٌّ (Panas)
ضَعِيْفٌ (Lemah)
قَلِيْلٌ (Sedikit)
اَلصَّافِي (Jernih)
قَاعِدٌ (Duduk)
مَرِيْضٌ (Sakit)
اَلْمُجَاهِدُ (Pejuang)
كُلٌّ (Semua)
خُبْزٌ (Roti)
اَلذُّنُوْبُ (Dosa – dosa)
شَرٌّ (Kejelekan)
مَذْمُوْمٌ (Tercela)
قَيِّمٌ (Lurus)
اَلْجِبَالُ (Gunung)
اَلْقَاضِي (Hakim)
اَلصِّرَاطُ (Jalan)
نَاصِرٌ (Penolong)
اَلأَسَدُ (Singa)
اَللَّيْلُ (Malam)
اَلنَّهَارُ (Siang)
صَبَاحٌ (Subuh)
مَسَاءٌ (Sore)
سَنَةٌ (Tahun)
أُسْبُوْعٌ (Minggu)
اَلدِّيْنُ (Agama)
سَاعَةٌ (Jam)
أَمَامَ (Di depan)
وَرَاءَ (Di belakang)
فَوْقَ (Di atas)
تَحْتَ (Di bawah)
خَلْفَ (Di belakang)
يَمِيْنٌ (Kanan)
شِمَالٌ (Kiri)
جَانِبٌ (Sisi)
جِهَةٌ (Arah)
عِنْدَ (Sisi)
اَلْوَاقِعُ (Terletak)
وَلَدٌ (Anak)
اِبْتِغَاءٌ (Mengharap)


Profill Muhammad Abdul Halim Sani ( pembuat buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik )

Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMA Muhammadiyah Cileungsi Bogor dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan.


Perkenalan dengan Gerakan Intektual Profetik


Add caption



 Manifesto Gerakan Intelektual Profetik  merupakan jawaban atas paradigma Ikatan yang selama ini berbeda masing-masing pimpinan dari tingkatan Pusat hingga Komisariat.  Buku ini juga melengkapi literatur Ikatan yang sudah jarang ditemukan serta menjadi bahan bacaan bagi yang mengkaji paradigma profetik serta gerakan kemahasiswaan. Buku ini mengkaji nilai-nilai yang ada dalam diri Ikatan serta bagaimana menghadirkan nilai tersebut sebagai jatidiri yang membedakan Ikatan dengan gerakan mahasiswa yang lain. Nilai tersebut menjadi alat pandang dan cara menyelesaikan proses dehumanisasi disaat ini, dengan membawanya pada cita-cita ideal yang diingin-kan. Manifesto GIP merupakan tulisan yang mengupas tentang paradigma Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam merespon realitas makro, mezo dan mikro, respon tersebut merupakan jawaban Ikatan atas proses dehumanisasi yang terjadi sampai saat ini. Kerja nyata yang dilakukan oleh ikatan dalam realitas ini, merupakan kerja kemanusiaan dalam bingkai nilai transenden dalam rangka beribadah kepada Allah (taqarub ilallah).

Buku Mnifesto GIP tersebut, terdiri dari sebelas bagian dimana bagian satu dengan yang lain mencapai satu kesatuan pemahaman yang utuh. Bagian pertama, membahas tentang manusia sebagai personal manusia ideal yang digambarkan oleh Ikatan. Bagian kedua, mengupas tentang simbol Ikatan sebagai paradigma atau nilai-nilai serta tujuan ikatan dalam melakukan perubahan. Bagian ketiga, membahas tentang profil kader secara personal dalam sebuah organisasi. Bagian keempat, mengupas tentang realitas sekarang atau kondisi saat ini yang mengambarkan dehumanisasi. Dengan penggambar-an tersebut,  sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan oleh Ikatan. Bagian kelima, membahas tentang Muhammad-iyah yang selayaknya mengkaji kembali pemikiran Kiai Ahmad Dahlan untuk menjawab realitas yang mengalami dehumanisasi. Bagian keenam, menganalisis kesadaran dalam melakukan transformasi sosial dengan nilai-nilai yang diidealkan. Bagian ketujuh, mengupas tentang indikator serta metodologi dalam melakukan transformasi  profetik. Bagian kedelapan, mengulas tentang etos profetis dalam mewujudkan cita-cita profetis. Bagian kesembilan, membahas tentang teori sosial yang digunakan dalam melakukan transformasi profetis. Bagian kesepuluh, menganalisis filsafat gerakan yang dilakukan intelektual profetik dalam melakukan transformasi. Dan bagian kesebelas, membahas transformasi profetik yang dilakukan oleh ikatan guna mewujudkan masyarakat yang diidealkan.


Kamis, 01 September 2011

MENGGALI MAKNA IKATAN; Interpretasi Terhadap Simbol IMM

Sebagaimana tercantumkan dalam tujuan IMM yang sesuai dengan AD IMM dalam bab II pasal 6 adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Dari sini merupakan cita-cita dari personal kader yang menjadikan spirit dalam diri untuk berproses dalam menjalankan kehidupan. Dalam proses terbentukya akademisi Islam merupakan tujuan dari organisatoris dan mengapa IMM ini didirikan. Yang paling penting IMM adalah merupakan salah satu ortom dari Muhammadiyah dimana terbentuknya IMM merupakan salah satu usaha untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan merupakan pionir dari Muhammadiyah hal tersebut dikarenakan sudah jelas dalam tujuan Ikatan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan merupakan harapan bagi Muhammadiyah dalam dataran sebagai kader Muhammadiyah cendikiawan Islam yang berakhlak mulia dan secara organisatoris Ikatan bergerak dalam dataran keilmuan. Ikatan memiliki tugas yang berat disini menjadikan ikatan sebagai proses dan eksperimen menuju masyarakat ilmu sebagai mana dikatakan oleh Kuntowijoyo sebagai masayarakat Ilmu. Masyarakat ilmu ini menjadikan bersifat ilmiah, rasional dan melakukan praxis kemanusiaan. Masyarakat ilmu yang menjadi tugas dari ikatan merupakan kewajiban dari ikatan untuk memilih yang menjadi gerakan adalah basic keilmuan atau bergerak dalam nalar ilmu bukan dalam nalar politis Gerakan ikatan dalam bidang ilmu ini yang membedakan ikatan dengan organ pergerakan yang lain serta ortom yang berada di lingkungan Muhammadiyah. Latar belakang gerakan ikatan dalam ilmu menjadikan pilihan sadar dimana melihat basic dari kader bergerak dalam dataran akademisi yang terbiasa dengan logika ilmiah bukannya emosional. Gerakan ilmu yang dimiliki oleh ikatan ini menjadikan tradisi serta etos dari suatu komunitas yang membedakan dengan organ yang lain. Lontaran tersebut merupakan interpretasi yang singkat dari tujuan mengapa IMM didirikan dengan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia.
Manusia merupakan mahluk simbolis (homo simbolicum) yang dalam perbuatan dan prilakunya membentuk suatu simbol-simbol dalam membaca dan memahami sesuatu. Oleh karena itu, memerlukan tafsiran lain dalam rangka memahami simbol yang ia ciptakan dan memperoleh makna dari simbol tersebut. Simbol yang berada pada manusia sangat diperlukan dikarenakan untuk mengenalkan dirinya dengan yang lain. Begitupula dengan organ ia mencitrakan diri agar berbeda dengan organ yang lain, misalkan dengan KAMMI dengan pencitraan sebagai seorang kadernya tercermin dalam pakaian yang ia kenakan dan corak pemikiran dalam pemahaman keagamaan dengan pendekatan ideologis. Simbol yang ia ciptakan merupakan sebagai alat untuk mempersatukan emosional anggotanya dan membedakan anggotanya dengan organ yang lain. Sebagaimana dengan ikatan memiliki semboyan ataupun semacam logo yang dikenal oleh setiap kader ikatan. Semboyan ikatan Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual, merupakan doktrin untuk kader yang menjadikan spirit dalam langkahnya di ikatan. Pengkajian lebih dalam tentang kenapa semboyan itu mencul itu merupakan hal yang penting dalam rangka dapat menggungkapkan makna yang dimiliki oleh semboyan. Hasil terhadap simbol tersebut diinternalkan kepada kader sebagai pengenalan ikatan terhadap kader dan organ yang lain.
Sejarah tentang ungkpan semboyan IMM selama ini belum ada yang mecoba mengungkapkan dimana kader menerima semboyan tersebut dan tanpa mengkritisinya. Semboyan yang dimilki oleh ikatan ini merupakan suatu lambang ataupun motto yang digunakan oleh santriwati/siswa madrasah mualimat Yogyakarta dan seterusnya diadopsi oleh ikatan. Pengadopsian ini dikarenakan adanya suatu bahasa yang sederhana tetapi memiliki arti yang mendalam. Sebagai salah satu kader ikatan yang sudah mengenal semboyan tersebut mencoba melakukan kritisi terhadapnya. Pengkritisan itu sebenarnya sudah dilakukan sejak didalam pimpinan komisariat hingga terkhir terbawa pada Musda yang ke-XII DPD IMM Yogyakarta. Semboyan ikatan anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual secara setruktur kalimat tidak memiliki masalah merupakan kata majemuk yang digabungkan memiliki arti yang utuh tidak dapat dipisahkan. Tetepi jika dilihat dalam sisi lain dengan menggunakan logika atapun alur berfikir secara filosofis maka itu akan bertentangan atapun saling tumpang tindih dalam kata tersebut. Sebagaimana dalam filsafat yang merupakan satu kesatuan berlaku secara sistematis berbicara tentang ontologi, epistemologi dan axiologi. Kiranya dapat dianalisa kata anggun dalam moral dalam kajian filsafat merupakan bagian dari axiologi yang berisi etika dan estetika sedangkan unggul dalam intelektual, merupakan wilayah epistemlogi dimana mengkaji tentang sumber pengetahuan dan bagaima cara memperoleh pengetahuan. Intelektual disi merupakan cara memperoleh pengetahuan sedangkan moral dalam kata anggun merupakan wilayah axiologi. Oleh karena itu, dengan pertanyaan yang mudahnya bagaimana cara mengetahui baik dan buruk, jika tidak mengenali apakah yang dikatakan baik dan buruk dan bagaimana cara memperolehnya. Jadi secara filosofis struktur dalam semboyan ikatan adalah tidak sistematis tetapi disini adanya kerancuan dalam logika berfikir dalam semboyan tersebut.
Pembenahan terhadap semboyan ini menjadikan kader menginternalisasi semboyan dengan logika berfikir yang sistemtis, benar. Dalam semboyan Ikatan yang dahulunya anggun dalam moran, unggul dalam intelektual dibalik menjadi unggul dalam intelektual, anggun dalam moral, dan radikal dalam gerakan. Penambahan kata radikal dalam gerakan ini merupakan tindakan praxis dalam melakukan suatu gerakan untuk melakukan transformasi sosial. Radikal memiliki arti secara mengakar, menyeluruh dan mendalam, sehingga yang ingin diharapkan ikatan dalam memlakukan suatu tindakan yang menjadi gerakan dilakukan secara mendalam dan bersifat menyeluruh serta praxis dalm gerakan. Gambaran yang sederhana seorang kader ikatan memilki kecerdasan intelektual, kecerdasan moral dan melakukan aksi nyata yang tercermin dalam prilaku seorang kader. Kata dalam semboyan ini bersifat berkelindan intralistik dan tidak dapat dipisahkan jadi memiliki arti yang menyeluruh bahwa kader ikatan pintar memiliki moral yang baik dan diterjemahkan atau tercermin dalam tingkah laku. Pembenahan terhadap semboyan ikatan tersebut menjadikan sebagai kader mencoba menggali apa yang selama ini sudah mapan dan perlu diduskisan kembali dalam rangka memahami makna yang berada dalam semboyan tersebut. Rekontruksi terhadap semboyan ini menjadikan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan IMM dibentuk yaitu terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia. Akademisi Islam yang berakhlak mulia ini sesuai dengan semboyan di Ikatan unggul dalam moral, anggun dalam moral dan radikal dalam gerakan. Secara struktur kata sesuai dengan semboyan ikatan kata akademisi merupakan kesesuaian dengan intelektual, hal ini dikarenakan intelektual merupakan bagaian yang terindentikan dengan akademisi begitu pula sebaliknya. Sedangkan kata yang beraklak mulia sesuai dengan kata anggun dalam moral hal ini dikarenakan sama dalam segi axiologi yang berkaitan dengan etika atau filsafat moral.
Ikatan sebagi sebuah organisasi memiliki tugas yang imban dalam rangka melakukan transformasi sosial. Ikatan merupakan pergerakan kemahasiswaan yang memiliki basic kader adalah mahasiswa memiliki kultur yang berbeda dengan pergerakan yang lain. Pergerakan ikatan masih dalam lingkungan Muhammadiyah untuk bangsa dan agama Islam. Oleh karena itu yang perlu di kerjakan oleh ikatan tercantumkan dalam bidang atau garapan ikatan yang tertuang dalam trilogi IMM kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan. Trilogi yang dimiliki oleh ikatan ini merupakan tugas berat teman-teman untuk melaksanakan ketiganya sebagai cerminan dari ikatan dalam melakukan transformasi sosial. Sifat dari trilogi tersebut merupakan kesatuan yang intergral dimana satu-sama lain tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan. Hal tersebut dikarenakan ketiganya merupakan cerminan dari realitas pada diri ikatan, meliputi asal, latar belakang, basic kader ikatan, basic keagamaan dan lahan garap untuk melakukan transformasi sosial baik dalam wilayah kemahasiswaan, keaagmaan dan kemasyarakatan. Trilogi yang berada dalam diri ikatan merupakan sarana ataupun tempat dalam melakukan transformasi sosial yang dilakukan oleh IMM.
Penerjemahan trilogi yang berada dalam ikatan merupakan suatu hal yang penting sebelum melakukan transformasi sosial dalam ketiga ranah tersebut. Pengungkapan makna trilogi ini menjadikan suatu disiplin keilmuan atapun semangat yang dibawa oleh ikatan yang tertuang dalam trilogi tersebut. Pengungkapan makna pada simbol yang tertera pada trilogi ikatan menjadikan ikatan memiliki daya tawar yang khas dengan pergerakan yang lain dan dapat dienternalkan pada kader. Pengungkapan ini menjadikan suatu karakteristik atau profil kader yang berada dalam ikatan, dimana merupakan pemaknaan yang menjadi unsur dari ikatan. Pengungkapan ini menjadikan langkah yang diambil oleh ikatan dalam melukan penbacaan ulang terhadap yang sudah mapan yang terdapat dalam ikatan. Pemaknaan yang tertera pada trilogi ingin menjadikan spirit atau yang harus dimiliki oleh ikatan sebagai seorang kader. Interpretasi terhadap simbol ini yang tertuang dalam trilogi keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Interpretasi tersebut menjadi keagamaan menjadi religiusitas (trasendensi), kemahasiswaan menjadi intelektualitas dan kemasyarakatan menjadi liberatif dan humanitas. Jadi unsur ketiga ini yang dapat dikatakan  menjadi IMM dihadapkan dengan pergerakan yang laian dan diri ikatan dimata kader-kadernya.
Pengungkapan dari masing-masing trilogi ini menjadikan seorang kader ikatan dalam salah satu triloginya seperti keagamaan maka seorang kader menguasai tiga tradisi dalam pengembangan keagamaan. Sebagai mana dikemukakan oleh Hasan Hanafi dalam melukan tugas pembangunan peradaban. Ketiga tradisi tersebut adalah tradisi klasik yang digunakan agama sebagai semangat pembebasan dan praxix sosial, kedua adalah tradisi sekarang yang dikenal dengan Oksidentalism. Tradisi sekarang ini menjadikan umat Islam melihat peradaban barat yang sudah sangat maju dan kita belajar pada mereka dan melengkapinya dan memiliki kedudukan yang sama antara barat dengan Islam sama-sama mengkaji pengetahuaan. Mengutip bahasanya Hasan Hanafi kesejajaran ego barat dengan Islam. Tradisi yang ketiga tradisi masa depan tradisi masa depan ini menjadikan Islam bersentuhan dengan tradisi sekarang dan meramalkan ataupun mimpi yang dibawa oleh Islam untuk merekontruksi peradaban. Menurut Hasan Hanafi dalam mencapai tradisi kedepan tersebut penggalian atau pemaknaan ajaran agam bercorak liberatif, emansipatoris, berpihak dan tidak bebas nilai. Umat Islam juga berhak menilai dirinya sendiri dan dapat menilai dan melakukan kajian terhadap peradaban barat, dari sini maka terjadinya kesejajaran ego antara barat dengan Islam. Pemahaman keagamaan ikatan berbeda dengan yang lain menjadikan ciri yang khas pada ikatan dengan menjadikan agama Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Pelaksaan agama Islam menjadi rahmat dengan mendialogkan antara kesalehan individual dan keshalehan sosial. Keshalehan individual merupakan cerminan dari sifat sufistik orang-orang tasawuf dan kesalehan sosial merupakan cerminan dari gerakan liberatif kaum marxian. Dari perpaduan tersebut sebenarnya sudah dilaksanakan oleh para nabi terhadahulu yang menjadi panutan bersama dalam membebaskan kaumny dan kaum tersebut mau dibawa kemana (transformasi profetik). Pelaksanaan trnasformasi profetik ini menjadikan Islam sebagai rahmat untuk alam dan menjadikan ajaran Isalam bersifat melampaui zaman dan waktunya ketika itu. Bahkan semangat agama membebaskan atau berpihak sudah di terapkan oleh pendiri Muhammadiyah dengan berdirinya sekolah, pantai asuhan, rumah sakit dan lembaga sosial yang lain. Semangat yang di bawa oleh Ahmad Dahlan adalah semangat profetis agama dalam melakukan transformasi sosial. Pemahaman keagamaan ikatan kita dapat menggali dari pemikiran tokoh-tokoh keagamaan dan beberapa ilmuan sosial yang menjadikan ilmunya untuk kemanusia bukan kepentingan penguasa dan pemodal. Islam disini menjadi sumber dan inspirasi dalam mengatasi problem sosial kemanusian dan problem lam yang terekploitasi oleh kepentingan modal dan tak memberikan manfaat bagai manusia yang lain serta generasi mendatang. Bahkan yang masih polpuler sekarang Islam sebagai ajarannya dapat bersikap damai bukannya dilabelkan sebagai agama teroris yang mengupayakan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Interpretasi terhadap simbol trilogi yang kedua kemahasiswaan menjadi intelektualitas. Mahasiswa merupakan salah satu generasi yang peka terhadap perkembangan dan keadaan bangsa dan bagaimana menyikapi. Kalangan mahasiswa juga dikatakan sebagai generasi akademis yang menjadi salah satu sifatnya keterbukaan, siap menerima kritikan dan menghargai kebenaran bersifat plural corak berfikir futuristik. Menggunakan apa yang dicitakan oleh Kuntowijoyo sebagai contoh eksperimen dari masyarakat ilmu. Masayarakat ilmu ini perlu dimiki oleh ikatan yang berlatar belakang kader seorang mahasiswa yang diterjemahkan dalam kajiannya bersifat mimpi kedepan untuk melakukan transformasi profetik dalam mengatasi problem bangsa yang tak bertepi dan berujung. Gerakan yang dilakukan oleh ikatan memiliki sifat keilmuan yang akademis sebagai pengembangan dari kekayaan keilmu kader serta bentuk transforamsi sosialnya bersikap profesional dan mejadikan kesatuan paradigma gerakan dalam ikatan. Tetapi ketika sudah selesai dari ikatan bentuk transformasi sesuai dengan keahlian dan basic keilmuan kader, bairkanlah kader yang ditanam dalam lingkungan dapat mewarnai. Mungkin menggunakan istilah yang mudah biarkan kader di tanam di manapun agar tanah yang tadinya tandus menjadi subur atau mungkin menjadi tanah yang berintan, permata, emas atau mungkin yang lain selama bisa bermanfaat bagi yang lain. Gerakan yang dilakukan ikatan adalah keilmu bukan politis, itu pula yang membedakan gerakan Muhammadiyah dengan SI. Gerakan keilmuan yang dilakukan dengan mengutip Kuntowijoyo mengibaratkan menanam pohon jati, dimana pohon tersebut dalam hasilnya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan bahkan satu generasi untuk mengungguh buah yang dihasilkan. Bedanya dengan gerakan yang bersifat politis mencari momentum yang tepat dibaratkan dengan pohon pisang dimana cepat berbuah dan berkembang tetapi bersifat sementara dan yang dihasilkan pun tak memuaskan, bahkan yang paling menyedihkan setelah berbuah pohon pisang pun mati. Dapat dianalisis dalam sejarahnya bagaimana SI dan Muhammadiayah  gerakan yang dilakukan Muhammadiyah dalam menanamnya memerlukan kesabaran dan waktu yang lama tetapi dalam sejarahnya pada tahun 60-90an kader-kader Muhammadiyah banyak yang duduk dalam dataran pemerintahan dan menggunakan perangkat dalam melakukan transformasi sosial. Sedangkan apa yang dilakukan oleh SI dalam sejarahnya anggota SI dari waktu yang singkat berkembang dengan pesat terbukti dengan jumlah anggota yang mencapai wilayah nasional pada waktu itu, tetapi seiring berjalannya waktu dan riwayat organisasi itu hilang dimakan sejarah. Gerakan keilmuan dalam ikatan merupakan obor yang menjadikan Ikatan sebagai kader Muhammadiyah yang membedakan dengan yang lain. Ikatan harus berani dalam melakukan pilihan yang sadar dalam menentukan gerakannya. Sebagaimana tujuan dari didirikannya ikatan adalah untuk terbentuknya akademisi Islam yang beraklak mulia untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah. Ikatan harus sadar bahwa ikhlas dan istiqomah dalam memilih itu penuh dengan tantangan dan memerlukan waktu dalam mempertimbangkannya.
Pengungkapan simbol yang selanjutnya kemasyarakatan dengan interpretasinya humanitas dan liberatif. Humanitas yang dilakukan oleh ikatan merupakan suatu tuntutan melihat realitas yang terjadinya dehumanisasi yang dilakukan oleh manusia akibat konsep kesadaran yang ia miliki berdasarkan antroposentris. Kesadaran ini pertama di gulirkan oleh seorang filosof Rene Descartes seorang filosof dari Prancis dengan jargonnya saya berfikir maka saya ada (cogito ergo sum). Kesadaran yang dibangun oleh Descartes menjadikan manusia bersifat otonom dan menentukan nasibnya sendiri dalam menanklukkan alam. Dari konsep kesadaran yang dibangun oleh Descartes dalam perkembangannya melahirkan tradisi kebudayaan barat yang sekarang dimana pada masyarakatnya terjadi kemajuan teknologi yang dasyat dengan ditandai pada awal abad ke-19 penemuan metode ilmiah deduksi, induksi, ekperimen oleh Francis Bacon. Perkembangan industri yang berjalan di Barat sampai sekarang sudah menuju masyarakat postindustrial dalam istilah Daniel Bell. Masyarakat barat dengan perkembangan postindustrialisme ini memiliki kehampaan spiritual dan mereka memmbutuhkan sentuhan tentang religiusitas untuk peradaban barat. Menurut Doni Grahal Adian maka menunculkan istilah-istilah pragmatisme, anarkhisme, utilitiarisme dalam rangka mengobati peradaban barat tersebut. Dalam masyarakat postindustrial ini terjadinya peristiwa yang benar-benar yang tujuan teknologi dan sistem kapitalis adalah untuk mempermudah manusia malahan mempersulit manusia, hal ini sebagaimana dikatakan oleh oleh Weber dengan sangkar besi rasionalisme. Sistem kapitalisme dan perkembangan teknolgi telah berjalan sendri tanpa ada yang mengendalikan sehingga menjadi alat bagi para pemodal dan menyebabkan pada manusia peristiwa dehumanisasi dan pada ekologi kerusakan alam akibat ekploitasi yang telah dilakukan oleh manusia. Masyarakat dan para intelektual telah terjerumus dalam lembah hitam yang bekerja untuk kepentingan kekuasaan dan pengupayaan keilmuan menjadi alat legitimasi kekuasaan serta tanpa sadar telah di arahkan untuk kepentingan global berupa pasar bebas. Sejalannya sejarah peristiwa humanisasi antroposentris telah berjalan dan malah menimbulkan dehumanisasi. Ikatan sebagai organisai yang mengetahui dan sadar dengan realitas tersebut memiliki banyak pilihan dalam memberikan tawaran terhadap persolan yang tiada akhir dalam rangka menciptakan surga dunia dalam bahasanya Glen Fredly.
Melihat problem yang terjadi sekarang dalam era postmodernisme yang mencoba mengintegrasikan antara agama dengan ilmu pengetahuan atau penyapaan bahasa langit dengan bumi.  Pengintegrasian ini mencoba memberikan tawaran terhadap problem dehumanisasi  dengan menggunakan istilah Ali Syari’ati yang dikutip oleh Kuntowijoyo dengan berdasarkan humanisme teoantroprosentris. Humanisme ini mencoba humanisme yang didasarkan pada nilai ajaran agama dalam melihat manusia bukan pada manusia itu sendiri. Disini, Kuntowijoyo memberikan ilustrasi tentang fitrah adalah memanusiakan manusia, pada derajat yang sesungguhnya atau sebaik-baik manusia fi ahsani taqwin. Derajat manusia yang sesungguhnya adalah yang mulia tidak mengalami keterhinaan baik yang dilakukan oleh struktur ataupun super struktur yang menbentuk kesadran manusia. Pemanusian manusia atau proses humanisasi tersebut didasarkan pada teoatroprosentris bukan atroposentris. Proses manusiawisasi adalah upaya melakukan transformasi kesadaran akan diri manusia yang sesungguhnya berdasarkan nilai-nilai agama.
Liberatif dengan bahasa mudahnya proses pembebasan, proses pembebasan ini dilakukan oleh kaum marxis dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Proses liberatif yang dilakukukan bersifat kesadaran dari yang dibebaskan mereka menyadari bahwa dirinya mengalami ketertindasan oleh sistem yang selama ini berjalanan. Liberatif dalam ikatan memilki megarah pada pembebasan dan sekaligus ada arah dan tujuan setelah dibebaskan. Proses pembebasan tersebut dapat dikatakan dengan profetical of liberatif. Profetical of liberatif ini dalam sejah kenabiaanya dapat kita merujuk pada pembebasan yang dilakukan oleh nabi Musa dalam memerdekaan kaumnya dari penindasan oleh Fir’aun dan setelah melakukan pembebasan dan benar merdeka dari sistem tersebut maka nabi Musa mengarahkan agar kaumnya memiliki kesadaran akan adany sang Pencipta. Semangat kenabian tersebut menjadikan proses pembebasan yang dilakukan oleh ikatan berbeda dengan yang dilakukan oleh marxian. Semangat pembebasan tersebut sebenarnya dalam sejarahnya dilakukan oleh Ahmad Dalan dalam melakukan transformasi sosial untuk konteks masyarakat Indonesia. Pembebasan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan jika mengutip Abdul Munir Mulkhan adalah bersifat profetik hal tersebut dikarenakan Ahmad Dahlan dalam melakukan tranformasi sosial atau proses humanisasi, liberasi berdasarkan semangat trasendensi akibat bersentuhannya teks terhadap realitas. Upaya yang dilakukan Ahmad Dahlan metode kontekstualisasi dalam mendiologkan antara teks dengan realias dan dibarengi dengan aksi kongreat yang dapat  dirasakan oleh masyarakat.


Muhammadiyah dan Konstruksi Gerakan Intelektual

Oleh: Salman Ahmad Ridwan·
“Kerja Intelektual adalah kerja seumur hidup”
(Ahmad Syafii Maarif)
Statement Buya Syafii Maarif sengaja telah saya kutip diawal tulisan ini karena munculnya gerakan intelektual dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu prasyarat yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia. dalam berbagai forum seminar dan berbagai tulisannya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini sering sekali menyampaikan pesan-pesan intelektualisme. Baginya, penyebab dari mundurnya masyarakat Muslim saat ini adalah karena prasyarat intelektualisme dalam tubuh masyarakat muslim telah ditindas karena alasan agama yang difahami secara sempit dan salah, maupun karena alasan politik kekuasaan dalam upaya mengebiri kebebasan berfikir yang menjadi pilar utama bagi intelektualisme (Maarif, 2010).
Sampai saat ini, fenomena dalam upaya membangun suatu gerakan intelektualisme masih sangat jauh sekali dari harapan. Upaya untuk membentuk suatu masyarakat intelektual sering sekali menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi kalangan pemikir keagamaan yang konservatif-fundamentalisme. Sering sekali fenomena penyingkiran terhadap kalangan kaum muda yang memiliki pemikiran progresif-liberatif disingkirkan melalui justifikasi klaim kebenaran yang bersifat teologis, statement seperti telah menyimpang dari akidah Islam, murtad, bahkan klaim kekufuran, bertubi-tubi diserangkan pada tubuh kalangan kaum muda. Padahal, sebenarnya saya pikir Muhammadiyah sangat menyadari bahwa majunya peradaban Islam dalam lembar sejarah tidak bisa dilepaskan dari peran para pemikir yang handal seperti Ibnu Ruysd, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan sebagainya. Lebih parahnya, tindakan untuk melakukan justifikasi klaim kebenaran itu berujung pada ketidakharmonisan antara kelompok muda dan kelompok tua dalam tubuh persyarikatan. Sehingga, jika kita melihat fenomena tersebut melalui kerangka berfikir etika welas asih Kiai Ahmad Dahlan, upaya kompetitif dengan cara yang baik (fastabiqul khairat) sama sekali tidak mencerminkan sebagai citra yang baik pula bagi warga Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Melalui pernyataan yang sederhana ini, cobalah kita merefleksikan ulang tentang ketauladanan yang tercermin pada pribadi Kiai Ahmad Dahlan sebagai faunding fathers Muhammadiyah. Apa sekiranya pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sosok Kiai Ahmad Dahlan?
Kiai Ahmad Dahlan Dalam Gerakan Intelektualisme

Walau pun banyak para pemerhati yang giat mengamati sosok pribadi Kiai Dahlan dalam perjalanannya telah berpandangan bahwa, Kiai dahlan adalah sosok manusia amal (man of action). Namun dari berbagai pandangan tersebut, kita tidak bisa melepaskan pula bahwa perjalanan Kiai Dahlan dalam memperjuangkan Muhammadiyah bukan berarti meninggalkan praktik intelektualisme. Walau pun Kiai Dahlan tidak meninggalkan karya intelektual dari hasil  pemikirannya, pada saat Kiai Dahlan membaca tafsir Al-manar sebenarnya sudah menandakan kepribadian intelektual pada sosok Kiai Dahlan, sekali pun ia telah berhadapan dengan kuatnya otoritas keagamaan yang dipegang oleh para ulama konservatif  di zamannya. Hal ini tentu tidak mengherankan bagi kita bahwa Kiai Dahlan adalah sosok pribadi yang memiliki pemikiran jauh melampaui zamannya.
Di sisi lain, tentang pergaulannya yang intens dengan siapa pun. Seperti pergaulannya dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang memiliki latar belakang pendidikan modern, dengan para tokoh-tokoh Belanda, pastur Kristiani, bahkan tokoh Komunis seperti Muso dan Alimin, sebenarnya telah memicu peran Kiai Dahlan dalam membawa suatu terobosan pemikirannya dengan semangat kemajuannya. Kiai Dahlan tidak memilah-milah untuk bergabung dengan siapa pun, bahkan dari intensitas pergaulanya itu, peran Kiai Dahlan dalam membentuk suatu persyarikatan Muhammadiyah telah terwujudkan, tentunya itu pun berkat dorongan dari rekan-rekannya di Budi Utomo. Dari pengembaraannya yang sangat luas itulah, telah tercermin pada diri sosok Kiai Dahlan bahwa kepribadiaanya sangat menghargai sekali kegiatan-kegiatan untuk belajar dengan siapa pun.
Memang selama satu abad ini, Muhammadiyah telah menampakan keberhasilannya dalam bidang amaliyah seperti mendirikan lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, panti asuhan anak yatim, lembaga amal zakat, panti jompo, adalah suatu kerja keras yang harus diapresiai secara baik oleh kita semua. Karena bagaimana pun, kerja nyata yang dilakukan oleh Muhammadiyah selama satu abad yang lalu merupakan suatu usaha kerja keras yang didorong semangat berorganisasi dalam bingkai iman yang mengental dalam upaya melebarkan sayap dakwah keMuhammadiyahannya.
Kendati pun demikian, di tengah kemunculan dengan adanya lembaga amal-usaha yang telah dikembangkan oleh Muhammadiyah, ternyata persoalan lain telah muncul dalam tubuh internal persyarikatan ini. Kemapanan yang terlalu berlebihan telah membawa Muhammadiyah pada suatu ruang dimana Muhammadiyah hanya sekedar melaksanakan program-program kerjanya yang bercorak instrumentalistik. Muhammadiyah telah terbawa pada sebuah diskursus social keagamaan yang selalu mendahulukan suatu hasil dan tujuan ketimbang mengahargai suatu nilai dalam prosesnya di saat menjalankan usaha untuk mencapai cita-citanya.Tentunya dalam hal ini kita tidak menyalahkan Muhammadiyah. Namun bagaimanapun juga, maju atau mundurnya persyarikatan ini, tergantung dari pengaruh orang-orang yang ada di dalamnya yang menjalankan organisasi ini.
Dari hal inilah, peran Muhammadiyah dalam melahirkan suatu masyarakat intelektual sangat penting sekali. Dengan munculnya para anak muda yang terus membawa membawa semangat intelektualisme dalam tubuh Muhammadiyah sebenarnya tidak perlu menjadi suatu kekhawatiran yang sangat berlebihan. Karena meledaknya pemikiran yang bercorak intelektual dari kalngan kaum muda akan mendorong secara terus-menerus persyarikatan ini pada suatu bentuk manifestasi gerakan tajdid yang sejak awal telah menjadi ciri khas dan karakter Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang terus bersemangat dalam membawa gagasan Islam yang berkemajuan.
Akhirnya, jika kaum tua di dalam tubuh Muhammadiyah dapat menerima bahkan mendukung kehadiran semangat anak-anak mudanya dalam meletakan fondasi intelektualisme yang serba baru, saya rasa Muhammadiyah tidak lagi akan menjadi suatu organisasi yang serba kaku ketika  berhadapan dengan berbagai persoalan yang terjadi dizaman yang serba kompleks ini. Namun, jika kaum tua masih saja tetap menghambat laju pemikiran yang lahir dari pemikiran dan karya kaum  muda dengan semangat intelektualnya, berarti dalam hal ini para kaum tua tidak ubahnya seperti para ulama konservatif yang telah memasung semangat tajdid yang dahulu telah dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah ketika masa awal. Oleh karenanya, statement “kerja intelektual adalah kerja seumur hidup” dari Buya Syafii Maarif perlu direnungkan kembali oleh para kaum tua yang selama ini selalu mengkhawatirkan munculnya pemikiran baru di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah saat ini. Padahal,  Intelektualismelah yang memajukan suatu zaman ke arah yang mencerahkan. Wallahua’lam!


Rabu, 31 Agustus 2011

event - Pk IMM FAI ("masta sebagai gerbang menuju IMM")

 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Agama Islam UHAMKA Jakarta Selatan mengadakan pengkaderan bagi anggota baru yaitu Masa Ta'aruf mahasiswa (MASTA). Tempatnya di Lantai 6 Fakultas Agama Islam UHAMKA, dengan mengusung tema: "masta sebagai gerbang menuju IMM". Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari kamis-jum'at, tanggal 8-9 September 2011. Dapat makanan, sertifikat, dan ilmu tentang Ke-IMMan dan Muhammadiyah.


biografi - Achmad Syafii Maarif






ACHMAD SYAFII MAARIF dilahirkan pada 31 mei 1935 di sebuah desa udik di Sumpurkudus, Sumatra Barat, sebuah daerah yang sumber penghasilannya dari perdagangan serba kecil dan tani. Putra Bungsu dari empat bersaudara pasangan Ma'rifah Rauf dan Fathiyah ini, waktu ecilnya mempunyai hobi menjala, memancing ikan dan menembakd dengan 'bedil' angin. Disamping itu dia juga aktif berolah raga joging, badminton serta tenis meja, tapi sekarang yang tersisa hanya joging dan Badminton
Sebelum meraih Ph.D di Chicago, Syafii kecil memulai pendidikannya di sekolah rakyat neegri, tetapi tidak punya ijazah, sebab masih zaman revolusi, dan merangkap di Madrasah Mualimin Lintau, Sumatra Barat sampai kelas tiga. Sebelum ke Lintau dia nggangur tiga tahun karena revolusi, kemudian dia belajar di Mualimin Yogjakarta sampai selesai
Lulus di Yogyakarta di ditugaskan ke Lombok Timur sebagai pengajar sekolah Muhammadiyah selama satu tahun, lalu pindah ke Jawa memulai belajar di FKIP Cokroaminoto Solo sampai sarjana muda pada usianya 29 tahun, di kampus inilah dia aktif di HMI cabang Solo dan menjadi ketua bidang pendidikan HMI cabang Solo periode 1963-1964. Dan pada tahun 1968 menyelesaikan sarjananya di FKIP Yogyakarta. Kemudian, meninggalkan Indonesia untuk belajar sejarah pada program master di universitas Ohio, AS
Guru besar UNY Yogyakarta ini jugapernah menjadi dosen pasca sarjana IAIN Yogyakarta. Dan sebelumnya terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah pada 1999-2004, tokoh yang juga pernah aktif di GPII dan pemuda Muhammadiyah, menggantikan Amien Rais yang memilih serius di partai politik PAN, walapun sesuasan sangat menyedihkan saat dua putranya, hanya tinggal Muhammad Hafizh yang baru selesai S2 di Roterdam Belanda jurusan Manajemen perkotaan (S.J Arifin 2004.Elkasa)
VISI Dunia International
Syafii berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus lebih mengintensifkan dengan Masyarakat Eropa, khususnya Belanda dan Jerman. Alasannya pertama; mereka telah banyak membantu Indonesia, dan masa depan mereka bisa menjadi 'kompetitor' Amerika Serikat dan ini adalah asas paling penting bagi politik luar negeri Indonesia, walapun pendapat ini dimungkinkan para diplomat EU selalu memberikan 'Conflict manajement' pada anti Amerika dan Israel, sehingga, yang terjadi di Jakarta bahwa gerakan anti-semitic dan Israel telah mendapat dukungan dan pengaruhnya dari para kebijakan kebijakan anggota EU dan para diplomatnya (S.J Arifn 2004) dari sinilah gerakan anti semitic berkembang dan mendapat dukungan dari para deplomat EU di Jakarta
 
Maarif, yang juga akrab dengan panggilan Syafii, ahli di bidang pemikiran Islam. Ia mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Mula-mula di Lintau, Sumatera Barat, kemudian di Yogyakarta. Setelah mengambil pendidikan FKIP Cokroaminoto Surakarta di Solo, ia kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan FKIS IKIP, 1968. Syafii juga bekas aktivis HMI Surakarta. Saat ini Pak Syafii juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah

Anak bungsu di antara empat bersaudara ini kemudian pergi ke AS untuk mendalami ilmu pemikiran Islam pada Universitas Chicago, Illinois. Di sanalah ia meraih gelar doktor pada 1982, dengan disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia
Maarif rajin berseminar dan menulis, dan sebagian besar karangannya mengenai Islam. Bukunya antara lain berjudul Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak? kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985.

Sebagai kolumnis, dosen Pasca-Sarjana IAIN Yogyakarta yang sehari-harinya mengajar di FP IPS IKIP Yogyakarta ini menulis artikel di majalah Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Genta, di samping di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.

Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola dan menembak burung.


Biografi _ BUYA HAMKA



Buya Hamka lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA.
Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia.
Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.


Event Calendar - UHAMKA Universitas

:: Peresmian Gedung Kampus Utama UHAMKA
Tempat : Kampus UHAMKA, Jl. Tanah Merdeka, Kp. Rambutan, Pasar Rebo, Jakarta Timur
Tanggal : 9 Juli 2011
selengkapnya...

:: Workshop Kemahasiswaan
Tempat : Wisma MUI Cipanas Bogor
Tanggal : 4 Maret 2011
selengkapnya...

:: WORKSHOP AND BACK-TO-BACK ONE-DAY SEMINAR ON POLICY, PRACTICE, AND RESEARCH IN TECHNOLOGY TRANSFORMED LEARNING (APPRITTL 2011)
Tempat : UHAMKA
Tanggal : 30 September 2011
selengkapnya...

:: Prarakernas Rektor PTM
Tempat : UHAMKA, Jl. Limau Keb. Baru Jaksel
Tanggal : 22 Februari 2011
selengkapnya...

:: Silaturahmi Pimpinan dengan IMM Komisariat UHAMKA
Tempat : Wisma MUI, Cipanas, Jawa Barat
Tanggal : 21 Januari 2011
selengkapnya...

:: Silaturahmi Idul Fitri 1431 H :
Tempat : AULA UHAMKA, Kampus Pasar Rebo, Kp.Rambutan, Jakarta Timur
Tanggal : 20 September 2010
selengkapnya...

:: Kuliah Umum Tahun Akademik 2010/2011
Tempat : Kampus Pasar Rebo, Jl. Tanah Merdeka Kp.Rambutan Jakarta Timur
Tanggal : 20 September 2010
selengkapnya...

:: Pursuing Good Practice In English Teaching And Learning
Tempat : Auditorium UHAMKA Jalan Limau II, 4th Floor Jakarta Selatan tel/fax : 62-21-7258284
Tanggal : 19 Oktober 2010
selengkapnya...

:: MASTA DAN PEKA BAGI MAHASISWA BARU UHAMKA
Tempat : kampus Limau, Ps. Rebo dan Klender
Tanggal : 18 Agustus 2010
selengkapnya...

:: International Workshop "Cross Cultural Understanding for Future Education"
Tempat : Auditorium UHAMKA, Jl. Limau II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Tanggal : 18 Januari 2011
selengkapnya...

:: Workshop Penyelenggaraan Kantor Urusan Internasional bagi PTM
Tempat : Kampus UHAMKA, Jl. Limau II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Tanggal : 12 Juli 2011
selengkapnya...


Selasa, 30 Agustus 2011

MOHON MAAF

SELAKU PIMPINAN KOMISARIAT IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH FAKULTAS AGAMA ISLAM , MENGUCAPKAN :

MOHON MAAF LAHIR BATHIN YAH .


AD/ART IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

GARIS-GARIS BESAR HALUAN ORGANISASI

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

PERIODE 2006 – 2008


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah, memiliki posisi yang strategis dalam rangka membangun tradisi pembaharuan Muhammadiyah. Dengan basis kekuatan yang berada dikampus-kampus, IMM merupakan organisasi otonom yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kader-kader akademis di masa depan. Posisi ini meniscayakan ikatan untuk selalu melakukan reorientasi dan penajaman visi, misi, peran, agenda, strategi, metode serta teknik gerakan. Dalam arti lain, IMM perlu melakukan penguatan gerakan, baik dari segi landasan pemikiran maupun program aksinya.

2. Bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari generasi muda Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam gerakan kultural partisipatoris yang selalu terlibat dengan sangat intens dalam mengambil peran-peran sosial, baik di wilayah infrastruktur maupun suprastruktur. Populasi kuantitatif umat yang masih belum diimbangi dengan posisi kualitatif menjadi tanggung jawab IMM bersama generasi muda Islam lainnya untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan kompetitif. Karenanya dibutuhkan formulasi strategi dan taktik yang tepat untuk berhadapan dengan intuisi umat kini dan masa depan.

3. Bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai generasi muda bangsa Indonesia menjadi bagian yang tak bisa mengelakkan diri dari berbagai kejadian, kecenderungan dan perubahan yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia baik dalam kerangka pemenuhan kebutuhan nasionalnya maupun konsekwensi interaksi antar bangsa-bangsa. Oleh karena itu, IMM dituntut untuk memiliki kemampuan yang tepat dalam memberikan jawaban terhadap dinamika bangsa Indonesia dalam berbagai sektor; ekonomi, politik, sosial, hankam, hukum dan lainnya. Keniscayaan ini menjadi sangat vital karena IMM bersama generasi muda lainnya adalah tumpuan harapan pelanjut nasib bangsa. Maka IMM perlu segera melakukan antisipasi dan terapi yang tepat dalam memainkan perannya untuk pemenangan masa depan.




B. Pengertian

Garis-Garis Besar Haluan Organisasi IMM adalah pernyataan kehendak IMM yang ditetapkan oleh Muktamar serta merupakan rangkaian kebijakan dan program kegiatan menyeluruh, terarah dan terpadu yang berlangsung secara terus menerus dalam rangka mewujudkan tujuan IMM yaitu terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Pola Dasar kebijakan adalah dasar-dasar yang dijadikan landasan disusun dan dilaksanakannya suatu kebijakan (program) sehingga pelaksanaannya mengarah pada tercapainya tujuan IMM.
Pola Umum kebijakan jangka panjang adalah pedoman kebijakan dalam jangka waktu lima kali periode Muktamar yang disusun sebagai arah dari penyusunan dan pelaksanaan kebijakan atau program jangka pendek secara bertahap akan mengarah pada tercapainya tujuan IMM.
Kebijakan IMM periode Muktamar adalah suatu pedoman yang disusun sebagai arah dari pelaksanaan kebijakan atau program dalam satu periode Muktamar.
Kebijakan program IMM adalah garis-garis pokok tindakan yang mengandung alternatif rencana program dalam mencapai tujuannya.
Program kerja IMM adalah serangkaian pokok kegiatan dalam rangka pelaksanaan kebijakan untuk mencapai tujuan IMM dalam waktu jangka tertentu.


C. Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan ditetapkannya Garis-Garis Besar Haluan Organisasi IMM adalah untuk memberikan arah bagi pelaksanaan usaha-usaha IMM yang pada pokoknya diwujudkan dalam bentuk kebijakan program IMM sehingga dapat mencapai maksud dan tujuan IMM sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi menurut keberadaan dan kemampuan IMM sendiri.


D. Landasan Kebijakan


Kebijakan IMM berdasarkan pada :

1. Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2. Kaidah Ortom Muhammadiyah.

3. Program Muhammadiyah periode Muktamar ke-45.

4. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM.

5. Keputusan Muktamar IMM yang masih berlaku

6. Kebijakan Organisasi.




E. Sistematika


Penyusunan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi IMM mengandung sistematika sebagai berikut:
BAB I
:
Memuat tentang Pendahuluan yang memaparkan tentang Latar Belakang Permasalahan, Pengertian-Pengertian tentang Garis-Garis Besar Haluan Organisasi IMM: Pola Dasar Kebijakan, Pola Umum Kebijakan IMM jangka panjang, Kebijakan IMM periode Muktamar, Kebijakan Program IMM dan Program Kerja IMM, serta memuat Maksud dan Tujuan, Landasan Kebijakan dan Sistematika.

BAB II
:
Memuat tentang Pola Dasar Kebijakan yang memaparkan tentang Makna dan Hakikat Kebijakan, Tujuan Kebijakan, Prinsip-Prinsip Kebijakan, Sasaran Kebijakan: Sasaran Personal dan Sasaran Institusional serta Modal Dasar dan Faktor Dominan.

BAB III
:
Memuat tentang Pola Umum Kebijakan Jangka Panjang yang memaparkan tentang Latar Belakang Permasalahan, Arah Kebijakan Jangka Panjang dan Sasaran.

BAB IV
:
Memuat tentang kebijakan IMM periode Muktamar yang memaparkan tentang Latar Belakang Permasalahan, Prioritas, Target serta Kebijakan Program IMM periode Muktamar XII.

BAB V
:
Memuat tentang pelaksanaan kebijakan dan program IMM.

BAB VI
:
Memuat tentang Penutup.




BAB II

POLA DASAR KEBIJAKAN


A. Makna dan Hakikat Kebijakan IMM


Pola Dasar Kebijakan IMM memberikan dasar-dasar bagi kebijakan IMM dalam upaya mewujudkan tujuan IMM. Pola dasar kebijakan IMM memuat tentang tujuan kebijakan, prinsip-prinsip kebijakan, sasaran kebijakan serta modal dasar dan faktor dominan. Oleh karena itu, makna dan pola dasar kebijakan IMM adalah penegasan dari tujuan IMM dalam bentuk penjabaran komponen-komponen yang mendasari serta berpengaruh bagi upaya pencapaian tujuan IMM.

Sedangkan hakikat pola dasar kebijakan IMM adalah wujud nyata dari upaya yang dilakukan secara bersama-sama dalam suatu kerjasama antara pimpinan dan anggota IMM untuk mencapai tujuan IMM.





B. Tujuan Kebijakan IMM


Tujuan kebijakan IMM diarahkan pada tercapainya tujuan IMM yaitu terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah


C. Prinsip-prinsip Kebijakan IMM


Untuk mencapai tujuan IMM maka setiap kebijakan atau program yang dilaksanakan hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip:
Prinsip Tujuan: ialah bahwa segala usaha dan program senantiasa mengacu pada pencapaian tujuan IMM yaitu terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia. Dengan demikian segala sesuatunya dilakukan bukan secara spontanitas insidental, melainkan sebagai bagian dari upaya mendekati pencapaian tujuan itu sendiri.
Prinsip Kekaderan: ialah bahwa segala kegiatan yang dilakukan merupakan pencerminan dari arena didik diri dalam mempersiapkan dan melatih kader-kader yang terlatih dan berkualitas yang diproyeksikan sebagai kader pimpinan bagi persyarikatan, umat dan bangsa. Target kualifikasi profil kader yang dituju dalam keseluruhan proses IMM adalah kader yang memiliki kompetensi dasar intelektual dan kompetensi dasar kemanusiaan.
Prinsip Dakwah: ialah bahwa aktivitas IMM dalam memerankan dirinya di tengah-tengah masyarakat adalah cerminan dari upaya dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Dakwah adalah landasan gerakan IMM dalam melakukan rekayasa kehidupan menuju pencerahan kualitas hidup manusia di dunia dan akhirat.
Prinsip Kebersamaan: Bahwa segala bentuk program dan pilihan kebijakan IMM merupakan hasil kehendak dan orientasi cita-cita seluruh bagian warga Ikatan. Kolektivitas dan kolegialitas adalah watak Ikatan dalam mengemban misi untuk mencapai tujuan bersama dalam model “tim kerja” dan kerja tim bagi program kerja Ikatan.
Prinsip Keseimbangan: Bahwa pilihan gerakan IMM merupakan wujud apresiasi yang seimbang dalam pemenuhan peran keagamaan, keilmuan dan kemasyarakatan.
Prinsip Relevansi: Bahwa kebijakan dan program kegiatan IMM adalah serangkaian aktivitas yang dilaksanakan untuk memberikan pemenuhan kebutuhan yang relevan dengan sikap, watak dan kebutuhan warga Ikatan yaitu mahasiswa.

7. Prinsip Kesinambungan: Bahwa kegiatan-kegiatan IMM dalam setiap struktur pimpinan senantiasa memperhatikan kebutuhan jangka panjang dan kesinambungan gerakan.
Prinsip Kemajuan atau Progresifitas: Bahwa segala bentuk program, kegiatan, maupun pilihan kebijakan IMM senantiasa diambil sebagai usaha IMM ke arah yang lebih baik, lebih progresif dan mencerahkan bagi persyarikatan, umat dan bangsa.


D. Sasaran Kebijakan IMM

Sasaran Personal

Yaitu sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan kepribadian serta sumber daya mahasiswa, baik secara lahiriyah maupun bathiniyah.


Pembinaan dan pengembangan aspek lahiriyah diarahkan pada:

1. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang terlatih dan terampil dalam menjalankan perannya di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan spesifikasi program dan pilihan kerjanya.

2. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang mampu menampilkan daya tarik yang tepat bagi generasi muda, khususnya mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas Ikatan.

3. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan yang cakap menjalankan organisasi sehingga memenuhi standar kualitas anggota dan pimpinan yang memenuhi aturan konstitusi Ikatan.

Adapun pembinaan dan pengembangan bathiniyah diarahkan pada:

1. Tercapainya kualitas kader dan Pimpinan IMM yang siap menampilkan diri sebagai seorang muslim hakiki dalam seluruh tindakannya.

2. Terciptanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang mampu mencerminkan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-harinya.

3. Terciptanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang siap berjuang dan berani menghadapi segala macam tantangan dalam kehidupannya, baik dalam rangka pengambilan peran institusional maupun dalam pemenuhan kualifikasi personalnya.

4. Terciptanya kader dan pimpinan IMM yang memiliki tingkat pemahaman yang tepat tentang fungsi dan perannya dalam membangun cita-cita Ikatan menuju masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi Allah.

Sasaran Institusional


Yakni sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan organisasi, baik di dalam (intern) maupun ke luar (ekstern). Pembinaan dan pengembangan yang bersifat internal diarahkan pada penataan, pelaksanaan serta pengawasan organisasi, sehingga secara bertahap akan dicapai keadaan sebagai berikut:

a. Terbinanya mental pimpinan dan atau mekanisme kerja kepemimpinan sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata kepemimpinan.

b. Terbinanya administrasi organisasi dan atau mekanisme keorganisasian sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata keorganisasian.

c. Terbinanya program dan kegiatan sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata kegiatan.

Pembinaan dan pengembangan organisasi yang bersifat eksternal diarahkan pada pemantapan organisasi secara bertahap sehingga tercapai suasana sebagai berikut:

a. Terbinanya kepemimpinan IMM yang tertib, baik vertikal maupun horisontal dalam rangka pelaksanaan program untuk mencapai tujuan IMM.

b. Terbinanya peran aktif IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah dalam meningkatkan fungsinya sebagi pelopor, pelangsung dan penyempurna cita-cita dan amal usaha Muhammadiyah serta dapat bekerja sama dengan AMM lainnya.

c. Terbinanya peran aktif IMM sebagai salah satu organisasi atau gerakan mahasiswa Muslim yang mampu menghimpun dan menyalurkan serta mengembangkan aspirasi, minat dan bakat mahasiswa muslim.

d. Terbinanya peran aktif IMM sebagai salah satu ormas kepemudaan di tengah-tengah dinamika kancah kehidupan kepemudaan dan kebangsaan.

e. Terjalinnya komunikasi mutualistik IMM dengan pemerintah serta lembaga OKP-OKP lainnya.

E. Modal Dasar dan Faktor Dominan


1. Modal Dasar

Modal dasar merupakan potensi obyektif lingkungan IMM yang menjadi modal pertama untuk menggerakkan dan berjuang untuk organisasi.

Modal Dasar IMM dalam kiprahnya adalah :

a. Para mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.

b. Para mahasiswa yang berada di perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi lainnya yang menyetujui maksud dan tujuan IMM.

c. Karakteristik umum potensi mahasiswa Muhammadiyah sebagai generasi muda potensial yang memiliki potensi dasar aqidah Islam yang menjadi sumber motivasi, kompetensi dasar kemanusiaan dan intelektual.


2. Faktor-Faktor Dominan

a. Berdirinya perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.

b. Tersedianya sumber dana yang potensial dari anggota-anggotanya yang ada di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

c. Kerjasama dan dukungan dari berbagai organ-organ institusi lain di luar Muhammadiyah.


BAB III

POLA UMUM KEBIJAKAN JANGKA PANJANG


Berdasarkan pada Pola Dasar Kebijakan, maka disusun pola umum kebijakan jangka panjang yang meliputi lima periode Muktamar (Muktamar XI – XV) sebagai upaya pengarahan dalam melaksanakan pembinaan mahasiswa dalam menuju tercapainya tujuan IMM.


A. Latar Belakang


Perkembangan jaman yang semakin mengarah kepada terbentuknya budaya global dalam berbagai sektor telah menarik sedemikian rupa seluruh komponen masyarakat terlibat di dalamnya. Kecenderungan globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan membawa dampak negatif dan positif dalam setiap muatan yang ditawarkannya.

Dalam keadaan demikian seluruh komponen masyarakat dan bangsa yang memiliki kapabelitas tinggi akan mampu menjadi subyek penentu yang memenangkan seluruh penawaran alternatif pemenuhan kebutuhan manusia dan orientasi hidupnya. Sebaliknya institusi dan komponen masyarakat dan bangsa yang tidak memiliki kapabelitas tinggi akan menjadi obyek sasaran pasar dunia dengan segala konsekuensinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai institusi sosial intelektual memiliki tingkat kemungkinan yang sangat besar untuk terlibat dalam kancah globalisasi yang terjadi. Sejauh mana IMM sebagai Social Movement berperan memainkan dalam arena kehidupan globalisasi. Diharapkan tingkat kemampuan IMM memberikan penawaran serta tanggapan terhadap setiap tantangan yang dihadapi.

Secara umum IMM akan semakin berperan bila ditopang oleh dua sisi kekuatan yang berjalan secara simultan dalam gerakannya. Kekuatan pertama merupakan daya tahan institusional yang dibangun secara sistematik dalam keseluruhan perangkat internalnya. Kekuatan kedua merupakan kemampuan Ikatan dalam membangun citra diri memainkan peranan di tengah-tengah persaingan yang tengah dan sedang berlangsung.

Hal ini harus dijawab dengan pemilihan aktivitas yang secara programatik dituangkan dalam kebijakan program kegiatannya. Program yang sistematik akan memberikan visi dan arah yang jelas terhadap perjalanan organisasi dalam setiap periode kepemimpinannya.

Maka disusunlah pola umum kebijakan program jangka panjang yang akan menjadi panduan kegiatan IMM selama 15 tahun kedepan yang diterjemahkan dalam pilihan (prioritas) program jangka pendek per-Muktamar.




B. Arah Kebijakan Jangka Panjang


1. Kebijakan jangka panjang dilaksanakan dalam rangka terciptanya akademisi Islam yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

2. Kebijakan jangka panjang dilaksanakan secara bertahap, berencana dan berkesinambungan diarahkan untuk mencapai maksud dan tujuan IMM yang lebih progresif.

3. Kebijakan IMM jangka panjang ditetapkan selama lima kali pelaksanaan Muktamar IMM yang dilaksanakan secara bertahap, berencana dan berkesinambungan melalui program per-periode Muktamar dari mulai periode Muktamar XI sampai Muktamar XV. Masing-masing tahapan memiliki sasaran khusus dalam kerangka sasaran program jangka panjang.

4. Dalam melaksanakan program jangka panjang, segala kemampuan dan potensi yang dimiliki anggota dan organisasi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin disertai dengan kebijakan dan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan potensi tersebut.

5. Pelaksanaan program jangka panjang mengandung prinsip keseimbangan antara pencapaian target dan proses. Artinya harus senantiasa memperhatikan dan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh IMM diberbagai tingkatan, berkualitas dan berpotensi setempat dan proses yang melingkupi pelaksanaan program itu sendiri sehingga tidak berorientasi pada pencapaian hasil semata-mata.

C. Sasaran Kebijakan


1. Sasaran Utama

Sasaran utama program jangka panjang IMM diarahkan pada upaya perumusan visi dan peran sosial politik IMM memasuki abad XXI. Hal ini ditetapkan dalam rangka memantapkan keberadaan IMM demi tercapainya tujuan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.


Pola pengembangan jangka panjang tahap II yang diputuskan dalam Muktamar VII IMM di Purwokerto. Rumusan program jangka panjang yang dimaksud (hasil Muktamar VII) menetapkan strategi pembinaan dalam 6 (enam) tahapan secara sistematis yaitu konsolidasi organisasi, konsolidasi pimpinan, pemantapan institusi dan mekanisme organisasi, pelaksanaan distribusi kader, kristalisasi internal dan kristalisasi eksternal.

Sasaran tersebut dilaksanakan secara bertahap, berencana dan berkesinambungan selama lima periode Muktamar :

a. Periode Muktamar IX : diarahkan pada perkembangan pemantapan konsolidasi internal baik konsolidasi organisasi, pimpinan dan program dengan peningkatan upaya membangun kualitas institusional yang mantap menghadapi perkembangan situasi politik nasional yang semakin dinamis, serta pemantapan mekanisme kaderisasi.

b. Periode Muktamar X : diarahkan pada penguatan orientasi perkaderan dengan peningkatan mutu sumber daya kader sebagai lokomatif utama kekuatan organisasi dalam transformasi sosial masyarakat.

c. Periode Muktamar XI : diarahkan pada penguatan peran institusi organisasi baik internal (pelopor, pelangsung dan penyempurna cita-cita amal usaha Muhammadiyah) maupun eksternal (kader umat dan kader bangsa).

d. Periode Muktamar XII : diarahkan pada pemantapan peran Ikatan dalam wilayah kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara memasuki era globalisasi yang lebih luas.

e. Periode Muktamar XIII : diarahkan pada pemberdayaan institusi organisasi serta pemantapan peranan dalam kehidupan sosial politik.


Sasaran - Kebijakan IMM :

Sasaran Kebijakan IMM :

Sasaran Personal

Yaitu sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan kepribadian serta sumber daya mahasiswa, baik secara lahiriyah maupun bathiniyah.


Pembinaan dan pengembangan aspek lahiriyah diarahkan pada:

1. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang terlatih dan terampil dalam menjalankan perannya di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan spesifikasi program dan pilihan kerjanya.

2. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang mampu menampilkan daya tarik yang tepat bagi generasi muda, khususnya mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas Ikatan.

3. Terbinanya kualitas kader dan pimpinan yang cakap menjalankan organisasi sehingga memenuhi standar kualitas anggota dan pimpinan yang memenuhi aturan konstitusi Ikatan.

Adapun pembinaan dan pengembangan bathiniyah diarahkan pada:

1. Tercapainya kualitas kader dan Pimpinan IMM yang siap menampilkan diri sebagai seorang muslim hakiki dalam seluruh tindakannya.

2. Terciptanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang mampu mencerminkan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-harinya.

3. Terciptanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang siap berjuang dan berani menghadapi segala macam tantangan dalam kehidupannya, baik dalam rangka pengambilan peran institusional maupun dalam pemenuhan kualifikasi personalnya.

4. Terciptanya kader dan pimpinan IMM yang memiliki tingkat pemahaman yang tepat tentang fungsi dan perannya dalam membangun cita-cita Ikatan menuju masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi Allah.

Sasaran Institusional


Yakni sasaran yang menyangkut pembinaan dan pengembangan organisasi, baik di dalam (intern) maupun ke luar (ekstern). Pembinaan dan pengembangan yang bersifat internal diarahkan pada penataan, pelaksanaan serta pengawasan organisasi, sehingga secara bertahap akan dicapai keadaan sebagai berikut:

a. Terbinanya mental pimpinan dan atau mekanisme kerja kepemimpinan sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata kepemimpinan.

b. Terbinanya administrasi organisasi dan atau mekanisme keorganisasian sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata keorganisasian.

c. Terbinanya program dan kegiatan sehingga secara bertahap akan terwujud suasana tata kegiatan.


SELAYANG PANDANG MUHAMMADIYAH DKI JAKARTA


          Untuk menggambarkan wajah dan bentuk kekuatan Muhammadiyah Wilayah DKI Jakarta yang dahulu disebut Muhammadiyah Betawi, tentunya tidak bias dilepaskan dari sejarah berdirinya Muhammadiyah di kota metropolitan ini. Dalam buku “Sejarah Muhammadiyah Jakarta Raya: Sejak Betawi Hingga Jabotabek”. Yang diterbitkan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta tahun 1986, bahwa kemungkinan besar Muhammdiyah Cabang Jakarta itu didirikan bertepatan dengan hari ulang tahun Muhammadiyah ke-9, yaitu pada tanggal 18 November 1921.
Gagasan pendirian Muhammadiyah Cabang Jakarta ini dimulai setela pada tahun 1920 KH. Ahmad Dahlan dalam perjalanannya ke tanah suci, pernah singgah di Jakarta. Dalam kesempatan itu pada jam 02.00 pagi di atas jalan kereta api Tanah Tinggi (wilayah Senin). KH. Ahmad Dahlan dapat mengadakan kontak langsung serta sekaligus memberikan wejangan kepada tokoh-tokoh seperti Kartosudarmo, Soewito, Sardjono dan Wirjosudarmo – yang belakangan kemudian dikenal sebagai pelopor berdirinya Muhammadiyah di Jakarta. Sesungguhnya, diantara perintis Muhammadiyah Cabang Jakarta itu, sebelumnya sudah ada yang pernah mengadakan kontak dengan KH. Ahmad Dahlan, baik dengan cara berkorespondensi maupun menerima pelajaran secara langsung dari KH. Ahmad Dahlan. Namun demikian, pertemuan di Jakarta kali ini benar-benar bersejarah, karena sesudah pertemuan dengan KH. Ahmad Dahlan tersebut api Muhammadiyah mulai berkobar disetiap dada angkatan perintis Muhammadiyah Jakarta. Berdirinya Cabang Jakarta ini kemudian disahkan oleh Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta dengan surat ketetapan No. 10.b.tgl.1 Juli 1928. Jadi baru 7 (tujuh) tahun kemudian mendapatkan pengesahan dari Pusat Pimpinan di Yogyakarta.
Langkah awal untuk memasyarakatkan Muhammadiyah di Jakarta ini selain dimulai dengan kegiatan tabligh dan pengajian dari kampong ke kampong, juga ditempuh melalui jalur pendidikan. Tahun 1923 untuk yang pertamakalinya Muhammadiyah Cabang Jakarta berhasil membuka sekolah Kweekschool di gang kenari (Jakarta Pusat) yang dikepalai oleh R. Hidajatullah. Sementara murid-muridnya kebanyakan berasal dari luar jawa, seperti misalnya dari Bengkulu, Liwa, Baturaja, Menggala, Palembang, Lahat, dll. Murid-murid inilah yang kemudaian menjadi kader serta pelopor berdirinya cabang-cabang Muhammadiyah di Sumatra Selatan.
Dalam perjalanan Muhammadiyah, kegiatan bidang pendidikan ini memang diandang cukup berhasil. Beberapa sekolah dasar telah didirikan, antara lain di Kebayoran Baru. Bahkan sekolah Algemene Middelbare School (AMS) yang terletak di Jl. Kramat Raya 49 amat terkenal sewaktu dibawah pimpinan Ir. Djuanda dan Mr. Maria Ulfa. Dengan berdirinya sekolah-sekolah tersebut menunjukan bahwa keberhasilan Muhammadiyah dibidang pendidikan cukup menggembirakan. Anak-anak yang tidak bias diterima disekolah di lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah.
Akan tetapi meskipun demikian, pada awal kehadiran Muhammadiyah di Jakarta ini tidak sedikit mendapat fitna dan hasutan serta buruk sangka dari kalangan masyarakat Jakarta. Sehingga boleh dikatakan bahwa 90% dari masyarakat Jakarta pada waktu itu adalah anti Muhammadiyah. Hal ini kita maklumi, karena pada umumnya mereka itu masih berpegang teguh pada adat serta paham lama yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tetapi alhamdulullah kecaman dan hasutan itu sedikit demi sedikit berkurang. Hal ini seiring dengan keberhasilan Muhammadiyah dalam mengembangkan Persyarikatan berikut amal usahanya, baik dalam bidang tabligh pendidikan (dari TK sampai Perguruan Tinggi), kesehatan, maupun kegiatan social keagamaan lainnya seperti yang kita saksikan sekarang ini.
Sekalipun secara resmi administrasi Pemerintahan DKI Jakarta ini hanya meliputi lima Kotamadya (Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan), akan tetapi wilayah kerja dari Pimipinan Wilayah DKI Jakarta ini mencakup pula wilayah Bekasi dan Tangerang.


PWM DKI Sosialisasikan Penetapan 1 Syawal 1432 H



PWM DKI Jakarta menyelenggarakan Jumpa Pers untuk sosialisasi Keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah perihal Penetapan 1 Syawal 1432 H. Jumpa Pers dilaksanakan pada hari ini, Jum'at, 25 Agustus 2011 di Kampus UHAMKA, Jalan Limau - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Pukul 10.00 WIB.
Dalam Jumpa Pers disampaikan bahwa 1 Syawal 1432H jatuh pada 30 Agustus 2011 sesuai dengan Keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Dalam kesempatan itu disampaikan pula data lokasi Sholat Idul Fitri di Jakarta dan Bekasi. Berikut data lokasi Sholat Idul Fitri 1432H/2011M Muhammadiyah DKI Jakarta dan Bekasi.


PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN

Muhammad Dahlan dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. la menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Mekkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan eorak keagamaan yang sarna, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (keislaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).
Riwayat Hidup Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Ia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Katib Harum, Mukhsin atau Nur, Haji Shaleh, Ahmad Dahlan, ’Abd Al-Rahim, Muhammad Pakin dan Basir.
Semenjak kecil, Dahlan diasuh dan dididik sebagai putera kiyai. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Qur’an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Diantaranya ia K.H. Muhammad Saleh (ilmu fiqh), K.H. Muhsin (ilmu nahwu), K.H. R. Dahlan (ilmu falak), K.H. Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh (ilmu hadis), Syekh Amin dan Sayyid Bakri (qira’at Al-Qur’an), serta beberapa guru lainya. Dengan data ini, tak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalui merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Selelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru, pada tahun 1890 Dahlan berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studinya dan bermukim di sana selama setahun. Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka pada tahun 1903, ia. berangkat lagi ke Mekkah dan menetap selama dua tahun. Ketika mukim yang kedua kali ini, ia banyak bertemu dan melakukan muzakkarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah. Di antara ulama tersebut adalah; Syekh Muhammad Khatib al-Minangkabawi, Kiyai Nawawi al-Banteni, Kiyai Mas Abdullah, dan Kiyai Faqih Kembang. Pada saat itu pula, Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, seperti Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, Jamal-al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain sebagainya.
Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan Dahlan tentang Universalitas Islam. Ide-ide tentang reinterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khusus Dahlan saat itu.
Sekembalinya dari Mekkah, ia mengganti namanya menjadi Haji Ahmad Dahlan, yang diambil dari nama seorang mufti yang terkenal dari Mazhab Syafi’i di Mekkah, yaitu Ahmad b. Zaini Dahlan. Ia membantu ayahnya mengajar pengajian anak -anak. Keadaan ini telah menyababkan pengaruh Ahmad Dahlan semakin luas di masyarakat sehingga ia diberi gelar “Kiai.” Sebagai seorang kiai, ia dikategorikan sebagai ngulomo (ulama) atau intelektual.
Tidak berapa lama dan kepulangannya ke tanah air, K.H. Ahmad Dahlan menikah dengan Walidah b. Kiai Pcnghulu Haji Fadhil (terkenal dengan Nyai Ahmad Dahlan) yang mendampinginya sampai akhir hayat.
Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu, Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.
Menurut cacatan sejarah, sebelumnya K.H. Ahmad Dahlan pernah kawin dengan Nyai ‘Abd Allah, janda dari H. ‘Abd Allah. Ia juga pernah kawin dengan Nyai Rumu (bibi Prof. A. Kahar Muzakkir) adik pebghulu ajengan penghulu Cianjur. Dan konon, ia juga pernah kawin dengan Nyai Solekhah, putrid Kanjeng Penghulu M. Syafi’i adik Kiai Yasin Paku Alam Yogya.
Semenjak ayahnya wafat, K.H. Ahmad Dahlan diangkat sebagai pengganti ayahnya menjadi ketib Mesjid Agung Kauman Yogyakarta, karena dianggap memiliki persyaratan yang secara konvensional disepakti dikalangan masyarakat. Setelah menjadi abdi dalem, oleh teman seprofesinya dan para kiai, K.H. Ahmad Dahlan diberi gelar Ketib Amin (khatib yang dapat dipercaya). Disamping jabatan resmi itu, ia juga berdagang tekstil ke Surabaya, Jakarta bahkan sampai ke tanah seberang (Medan). Kendatipun sibuk dengan urusan bisnis, ia tetap menambah ilmu dengan mendatangi ulama serta memperhatikan keadaan umat Islam ditempat yang ia singgahi. Sampai kemudian K.H. Ahmad Dahlan meninggal duni pada tanggal 25 Februari 1923 M./7 Rajab 1340 H. di Kauman Yogyakarta, dalam usia 55 tahun.
Pemikiran Ahmad Dahlan
  1. Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke Utara. Menurut ilmu hisab yang ia pelajari, arah Kiblat tidak lurus ke Barat seperti arah masjid di Jawa pada umumnya, tapi miring sedikit 241/2 derajat. Perbuatan ini ditentang olen masyarakat, bahkan Kanjeng Kiai Penghulu memerintahkan untuk menghapusnya. Lalu ia membangun Langgar sendiri di miringkan arah Utara 241/2 derajat, lagi-lagi Kanjeng Kiai Penghulu turun ­tangan dengan memerintahkan untuk merobohkannya. K.H. Ahmad Dahlan hampir putus asa karena peristiwa-peristiwa tersebut sehingga ia ingin meninggalkan kota kelahirannya. Tetapi saudaranya menghalangi maksudnya dengan membangunkan langgar yang lain dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan pengetahuan agama sesuai dengan apa yang diyakininya. Peristiwa demi peristiwa tersebut rupanya menjadi cikal-bakal pergulatan antara pikiran-pikiran baru yang dipelopori oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan pikiran-pikiran yang sudah mentradisi.
  2. Memang tidak mudah bagi K.H. Ahmad Dahlan untuk menyosialisasikan ide pembaharuannya yang dibawa dari Timur Tengah. Di samping karena masyarakat belum siap dengan sesuatu yang dianggap “berbeda” dari tradisi yang ada, juga karena ia belum punya wadah untuk menyosialisasikan tersebut. Kegagalan Ahmad Dahlan mengubah arah Kiblat, tidak menyurutkan nyalinya untuk tetap memperjuangkan apa yang diyakini.
    Sesudah peristiwa itu, pada tahun 1903 M. atas biaya Sultan Hamengkubuwono VII, K.H. Ahmad Dahlan dikirim ke Mekkah untuk mempelajari masalah Kiblat lebih mendalam dan menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya. Di sana ia menetap selama dua tahun. Bahkan ia pernah mengunjungi observatorium di Lembang untuk menanyakan cara menetapkan Kiblat dan permulaan serta akhir bulan Ramadhan. Perjuangannya ini cukup berhasil ketika pada tahun 1920-an masjid-masjid di Jawa Barat banyak yang di bangun dengan arah Kiblat ke Barat ­laut. Dan menurut catatan sejarah, Sultan sebagai pemegang otoritas tertinggi, menerima penentuan jatuhnya hari Raya ‘Idul Fitri, yang pada mulanya ditetapkan oleh Kesultanan berdasarkan perhitungan (petungan) Aboge.
  3. Terobosan dan Strategi Ahmad Dahlan
    Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat te­robosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya. Lebih dari itu, karena anggo­ta-anggota Budi Utomo pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah dan kantor­-kantor pemerintah, Ahmad Dahlan berha­rap dapat mengajarkan pelajaran agama di sekolah-seko1ah pemerintah. Rupanya, pe­lajaran dan cara mengajar agama yang di­berikan. Ahmad Dahlan dapat diterima baik oleh anggota-anggota Budi Utomo. Terbukti, mereka menyarankan agar Ah­mad Dahlan membuka sendiri sekolah se­cara terpisah. Sekolah tersebut hendaknya didukung oleh suatu organisasi yang bersi­fat permanen.
  4. Gerakan Pembaruan Ahmad Dahlan
    Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis.
    Kemudian dia mengeliminasi upacara selametan karena merupakan perbuatan bid’ah dan juga pengkeramatan kuburan Orang Suci dengan meminta restu dari roh orang yang meninggal karena akan membawa kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Mengenai tahlil dan talqin, menurutnya, hal itu merupakan upacara mengada-ada (bid’ah). Ia juga menentang kepercavaan pada jimat yang sering dipercaya oleh orang-orang Keraton maupun daerah pedesaan, yang menurutnya akan mengakibatkan kemusyrikan.
Mendirikan Perserikatan Muhammadiyah Sebelum mendirikan Organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan aktif di berbagai perkumpulan, seperti Al-Jami’at Al-Khairiyyah (organisasi masyarakat Arab di Indonesia), Budi Utomo dan Sarekat Islam. Ia termasuk salah seorang ulama yang mula-mula mengajar agama Islam di Sekolah Negeri, seperti Sekolah Guru (Kweekschool) di Jetis Yogyakarta dan OSVIA di Magelang.
Selain berdagang pada hari-hari tertentu, dia memberikan pengajian agama kepada beberapa kelompok orang, terutama pada kelompok murid Pendidikan Guru Pribumi di Yogyakarta. Dia juga pernah mencoba mendirikan sebuah madrasah dcngan pengantar bahasa Arab di lingkungan Keraton, namun gagal.
Selanjutnya, pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani.
Tujuan Muhammadiyah terutama untuk mendalami agama Islam di kalangan anggotanya sendiri dan menyebarkan agama Islam di luar anggota inti. Untuk mencapai tujuan ini, organisasi itu bermaksud mendirikan lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh yang membicarakan masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat kabar dan majalah.
Sebagai jawaban terhadap kondisi pendidikan umat Islam yang tidak bisa merespon tantangan zaman, K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen. Ini mengadopsi pendidikan model Barat, karena sistemnya dipandang “yang terbaik” dan disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Dengan kata lain, ia berusaha untuk mengislamkan berbagai segi kehidupan yang tidak Islami. Umat Islam tidak diarahkan kepada pemahaman “agama mistis” melainkan menghadapi duni secara realitis.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan surat ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. izin itu hanya berlaku untuk daerah Yokyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sbabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srakandan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah di luar Yokyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yokyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf Bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
Muhammadiyah dalam melaksanakan dan memperjuangkan keyakinan dan cita-cita organisasinya berasaskan Islam. Menurut Muhammadiyah, bahwa dengan Islam bisa dijamin kebahagiaan yang hakiki hidup di dunia dan akhirat, material dan spiritual.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
Untuk mewujudkan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah yang berdasarkan Islam, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah dilakukan menurut cara yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dakwah Islam dilakukan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasehat, ajakan, dan jika perlu dilakukan dengan berdialog.
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Usaha-usaha yang dirintis dan dilaksanakan menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu berusaha memperbarui dan meningkatkan pemahaman Islam secara rasional sehingga Islam lebih mudah diterima dan dihayati oleh segenap lapisan masyarakat.
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M. membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah. Bagian ini menyelenggarakan tabligh khusus wanita, memberika kursus kewanitaan. Pemeliharaan fakir miskin, serta memberi bantuan kepada orang sakit. Kegiatan Muhammadiyah dengan ‘Aisyah ini berjalan baik, terutama karena banyak orang Islam baik menjadi anggota maupun simpatisan memberikan zakatnya kepada organisasi ini.
Di samping ‘Aisyiah, kegiatan lain dalam bentuk kelembagaan yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah ialah (1) PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang bergerak dalam usaha membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam dan mendirikan klinik-klinik kesehatan; (2) Hizb AI-Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah yang dibentuk pada tahun 1917 M. oleh K.H. Ahmad Dahlan; (3) Majlis Tarjih, yang bertugas mengeluarkan fatwa terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.
Analisa
Cita-cita K.H. Ahmad Dahlan sebagai ulama cukup tegas, ia ingin memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita Islam. Usaha-usahanya lebih ditujukan untuk hidup beragama. Keyakinannya bahwa untuk membangun masyarakat bangsa haruslah terlebih dahulu di bangun semangat bangsa.
Dengan keuletan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan, dengan gerakannya yang tidak pernah luput dari amal, kelenturan dan kebijaksaan dalam membawa misinya, telah mampu menempatkan posisi “aman”, baik pada zaman penjajahan maupun pada masa kemerdekaan. Jejak langkah K.H. Ahmad Dahlan senantiasa menitik-beratkan pada pemberantasan dan melawan kebodohan serta keterbelakangan yang senantiasa berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
Arus dinamika pembahruan terus mengalir dan bergerak menuju kepada berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, peranan pendidikan Islam menjadi semakin penting dan strategis untuk senantiasa mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan, karean pendidikan merupakan media yang sangat strategis untuk mencerdaskan umat. Melalui media ini, umat akan semakin kritis dan memiliki daya analisa yang tajam dan membaca peta kehidupan masa depannya yang dinamis. Dalam konteks ini, setidaknya pemikiran pendidikan Ahmad Dahlan dapat diletakkan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memberikan inspirasi bagi pembentukan dan pembinaan peradaban umat masa depan yang lebih proporsional.
Kesimpulan
Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke Utara.
Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.
Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis.
pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M. membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Jhoy Coles Arts | Bloggerized by Pk IMM Uhamka - Fakultas Agama Islam | thanks to Allah